Tampilkan postingan dengan label Pemilu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pemilu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 21 Juli 2019

UMAT TAK TERIKAT DAN TAK AKAN TAAT DENGAN KOMITMEN APAPUN DARI REKONSILIASI ... Oleh : Nasrudin Joha

INGAT ! UMAT TAK TERIKAT DAN TAK AKAN TAAT DENGAN KOMITMEN APAPUN DARI REKONSILIASI YANG KALIAN BUAT
Rekonsiliasi itu hanya untuk elit, jadi jika terjadi itu hanya mengikat elit. Rekonsiliasi itu hanya untuk membagi kue kekuasaan dikalangan elit, jadi tak berpengaruh sedikitpun bagi kemaslahatan umat.
Bagi rezim, rekonsiliasi adalah sarana untuk mencari legitimasi, setelah kemenangan secara curang dilegalisasi MK. Bagi kubu oposisi, rekonsiliasi adalah kesempatan ngalap berkah untuk mendapatkan kursi, setelah tak dapat meraih kekuasan secara mendominasi.
Bagi umat, rekonsiliasi adalah pesta pora diatas bangkai dan penderitaan umat. Perayaan kemenangan diatas kesedihan dan kemarahan umat. Berbagi konsesi kekuasaan, diatas onggokan tulang belulang dan amisnya darah mujahid 21-22 Mei.

MEREKA TIDAK TULUS MAU REKONSILIASI ... Oleh : Nasrudin Joha

MEREKA TIDAK TULUS MAU REKONSILIASI, LANTAS KENAPA KITA MUSTI TUNDUK ?
Rezim Jokowi tak benar-benar tulus ingin rekonsiliasi. Yang mereka butuhkan itu hanya legitimasi kemenangan yang diperoleh secara curang. Bukan ingin rekonsiliasi.
Saat Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan usul agar rekonsiliasi Jokowi-Prabowo Subianto dimanfaatkan untuk membawa pulang Habib Rizieq Syihab (HRS) ke Indonesia. Kubu TKN Jokowi melalui Hendrawan Supratikno menolak, alasannya rekonsiliasi yang sehat adalah yang memikirkan kepentingan bangsa. Jadi, HRS tidak dianggap sebagai bagian dari aset dan kepentingan bangsa, bahkan boleh jadi HRS dianggap bagian dari musuh bangsa.
Bagi kubu TKN Jokowi, BPN Prabowo bisa menyampaikan syarat apapun, termasuk konsesi berbagi kekuasaan. Dan hal ini, jelas sudah dipersiapkan oleh kubu rezim untuk memuluskan rencana rekonsiliasi untuk melegitimasi Kemenangan Jokowi. Tapi untuk HRS, untuk membebaskan semua tokoh dan ulama yang dikriminalisasi, No way !

Senin, 15 Juli 2019

JOKOWI DAPAT SEMUANYA, PRABOWO BERIKAN SELURUHNYA By Asyari Usman

JOKOWI DAPAT SEMUANYA, PRABOWO BERIKAN SELURUHNYA
By Asyari Usman
Dari pertemuan Lebak Bulus (13 Juli 2019), ada pertanyaan penting: Jokowi dapat apa, dan Prabowo dapat apa? Siap yang untung, siapa yang rugi?
Kalau mau dijawab singkat, itulah judul tulisan kali ini. Yaitu, Jokowi dapat semuanya, sedangkan Prabowo memberikan seluruhnya. Jokowi dapat ‘full package’ dan Prabowo menyerahkan segalanya.
Yang diperoleh Jokowi dan yang diberi Prabowo barangkali tidak ternilai secara material. Maksudnya, saya tidak tahu berapa yang pantas dibayar untuk legitimasi jabatan presiden. Mau Anda sebut 25 triliun? Atau 50 triliun? Wallahu a’lam.

Kamis, 04 Juli 2019

Kenapa Kalian Sibuk Mau Jumpa Prabowo?

Kenapa Kalian Sibuk Mau Jumpa Prabowo?
By Asyari Usman
Hari-hari ini sibuk sekali Kubu 01 mau mempertemukan Jokowi dengan Prabowo. Entah mengapa mereka di Kubu 01 harus kasak-kusuk agar pertemuan itu terlaksana.
Kalau presiden kalian menang bersih di pilpres 2019 ini, kenapa kalian sibuk mau bertemu dengan Prabowo? Untuk apa? Abaikan saja. Lupakan saja semunya.
Jokowi ‘kan sudah dilegalkan MK tanpa ada satu pun gugatan Prabowo yang diterima. Berarti MK bilang kalian menang bersih. Ya sudah. Makan kalianlah jabatan presiden itu.
Sudah dilegalkan MK, kok. Takut apa lagi? Sudah, ambil sana “hak” kalian itu. Tak usah kalian gubris kami dan Pak Prabowo. Aman kok. Tak akan ada yang mengganggu kalian. Buat saja suka-suka hati kalian.

Kamis, 27 Juni 2019

MK Akan Menghukum Perampok atau Korban Perampokan? By Asyari Usman

MK Akan Menghukum Perampok atau Korban Perampokan?
By Asyari Usman
Ujian independensi Mahkamah Konstitusi (MK) akan terlihat besok. Mereka akan memutuskan siapa pemenang sengketa hasil pilpres 2019. Mari kita saksikan apakah MK akan menghukum perampok atau menghukum korban perampokan.
Tidak perlu dibawa berbelit-belit apalagi berkelit-kelit. Konstelasi pilpres ini sudah sangat terang-benderang. Yaitu, ada gerombolan pemilik berbagai macam kekuasaan yang merampok kemenangan rakyat; dan ada korban yang dirampok (Prabowo-Sandi). Semuanya hitam-putih. Tidak ada yang abu-abu.

Para Pengkhianat Koalisi Prabowo Mulai Tunjukkan Belang By Asyari Usman

Para Pengkhianat Koalisi Prabowo Mulai Tunjukkan Belang
By Asyari Usman
Moga-moga saja Pak Prabowo tidak terpengaruh oleh ide bergabung ke Jokowi. Dalam beberapa hari ini, ada sejumlah orang di koalisi Adil-Makmur yang mulai mencoba-coba meniupkan skenario yang sangat hina. Yaitu, bergabung ke kubu Jokowi.
Sebelum membahas ini lebih lanjut, perlu dipahami bahwa kubu 01 bisa saja sedang memasang perangkap agar opini publik terarah seolah yang menang pilpres adalah Jokowi. Padahal, yang menang adalah Prabowo-Sandi. Jadi, sangat bisa dimengerti kalau kubu 01 berkepentingan agar publik secara tak sadar mengakui kemenangan curang Jokowi-Ma’ruf.

Kamis, 06 Juni 2019

Jaga Suara by Canny W


Jaga Suara
Oleh : Canny Watae
Sebelum menulisnya, saya sadari ini akan menjadi bacaan yang cukup panjang. Pula butuh pemikiran dan logical thinking di sisi pembaca.
Men”Jaga-suara” di sini adalah menjaga raihan suara Prabowo(-Sandi) nanti, dan sebelum nanti. Yaitu sekarang juga.
Pada Pilpres sebelumnya (2014), saya melihat ada faktor “ketidaktahuan” yang dibarengi faktor sempitnya waktu, plus faktor kalah mental, plus semacam “kekakuan” organisasi pada tim sukses Prabowo(-Hatta). Faktor-faktor ini akumulatif, sehingga hilangnya suara Prabowo terjadi dan tak bisa diatasi. Hilang signifikan.

Selasa, 21 Mei 2019

5 Jenis Dugaan Pelanggaran Pemilu 2019

Haris Azhar Sebut Ada 5 Jenis Dugaan Pelanggaran Pemilu 2019

Jakarta, CNN Indonesia - Direktur kantor hukum dan HAM Lokataru yang juga penggagas hakasasi.id, Haris Azhar  menyebut ada lima kategori yang diduga terlibat selama tahap Pemilu 2019 berjalan. Itu semua perlu diungkap oleh beberapa tim pencari fakta. 

"Angka dan data yang kami temukan bisa lebih kecil dari apa yang terjadi di lapangan," kata Haris di kantor Lokataru, Jakarta, Rabu (8/5). 

Pertama, yaitu pengajuan aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS) untuk menggalang dukungan salah satu paslon peserta Pilpres 2019.

Selasa, 14 Mei 2019

Pemilu 2019

PEMILU 2019

A. PRA
1. 20 % ELEKTORAL --> mempersempit peluang yang lain
2.a. Penentuan keterpilihan DPR
2.b. Pemilihan komisioner KPU --> usulan, pemilihan, pengangkatan
2.c. Persiapan kape'u --> Regulasi (DPT orgil, mantan koruptor, dll)
                      --> Alat (Gambar, gembok kadus alumunium)
                      --> Sosialisasi
3. Permasalahan DPT --> tahun2 sebelumnya, pendatata, data versi
4.a. seputar pembangunan e-ktp
4.b. E-KTP tercecer --> Bogor, Bekasi dll
5. Tuntutan ada Audit IT KPU
6. Pelibatan aparatur negara
7. Start BUMN & K/L
8 Pembuatan Regulasi pelaksanaan --> PKPU --> untuk Situng dan QC


B. MASA
1. Pemanfaatan Aparatur Negara (memperlancar/menghambat)
2. Cuti/ pemanfaatan fasilitas Negara
3. BUMN & K/L --> csr
4.


C. PASKA => Adu kuat

1. Pemanfaatan Aparatur, Ahli2, akademisi
   @ Ke-t2kutan - issue, Makar , telolis, garis keras dll
   @ Shutdown akun2
2. Pemanfaatan Lembaga
   @ Opini/persepsi public -> LS QC, kape'u
   @
   @ Ke-t2kutan- hokum - uu ite - hoax, ujaran kebencian, penghinaan dll
   @ @ Shutdown akun2



D. Pengkooptasian Media

   --> ada banyak pandangan -- "brosour pemerintah"

E. ????
1. 4 Ton Surat Suara Ditemukan di Makasar
2. Surat suara telah tercoblos
3. (KPU) Kabupaten Pesisir Barat (Pesibar) oleh DKPP RI
4. Bupati Nias Selatan Ungkap Banyak C1 di Gudang KPU.
   Protes banyak C1 fotocopi digunakan.
5. Pembakaran kotak suara (https://regional.kompas.com/read/2019/04/26/12031431/fakta-di-balik-sejumlah-kasus-pembakaran-kotak-suara-dilakukan-caleg-gagal?page=all)



F. SITUNG