Tampilkan postingan dengan label PSOSMED. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PSOSMED. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Agustus 2019

SUDAH MERDEKA?

SIAPA BILANG MEREKA SUDAH MERDEKA?
By Asyari Usman
Sebagaimana ritual mewah-meriah setiap tahun di Istana Negara, Istana Gubernur, Istana Bupati, Istana Walikota, hari ini juga akan berlangsung peringatan kemerdekaan RI ke-74. Dengan segala tayangan kehebatan segelintir orang. Mereka itulah yang sudah lama dan sudah banyak menikmati kemerdekaan.
Mereka datang ke Istana dengan kendaraan supermewah. Dengan busana serba baru dan ‘high class’. Tas tangan puluhan juta. Sepatu belasan juta. Jam tangan ratusan juta.

Minggu, 21 Juli 2019

TIDAK ADA REKONSILIASI DENGAN KECURANGAN, KEZALIMAN & PENINDASAN Oleh : Nasrudin Joha

TIDAK ADA REKONSILIASI DENGAN KECURANGAN, KEZALIMAN & PENINDASAN
Kita telah sepakat, mengambil pilihan berdiri tegak melawan setiap inchi kezaliman dan penindasan, tanpa memandang siapapun pihak di kubu rezim. Kita juga telah berkomitmen memperjuangkan kejujuran dan kebenaran, tanpa mempertimbangkan siapapun yang mengambil pilihan berdiri bersama kita, disamping kiri dan kanan kita.
Gambar mungkin berisi: langit, pohon, tanaman, awan, senja, luar ruangan dan alam
Ilustrasi
Kita juga telah sepakat, perjuangan ini demi menegakan agama Allah, menegakan kebenaran dan keadilan dan memerangi tirani dan kezaliman. Kita, tidak pernah memiliki niat hanya berjuang untuk mendudukkan seseorang atau individu tertentu pada tampuk kekuasaan, kemudian berhenti manakala ada yang menyatakan menyerah untuk tetap menyuarakan kebenaran, atas dalih apapun.

INGAT ! MESKIPUN INI SUDAH BULAN JULI TAPI TETAP TAK ADA OPSI REKONSILIASI ... Oleh : Nasrudin Joha

INGAT ! MESKIPUN INI SUDAH BULAN JULI TAPI TETAP TAK ADA OPSI REKONSILIASI
Sebagian elit partai oportunis hendak mengambil momen lengah umat, untuk menjual komitmen rekonsiliasi kepada rezim untuk di barter dengan remah-remah kekuasaan yang sedikit. Bromocorah politik ini, merapat ke kubu rezim dengan menjual 'komitmen rekonsiliasi' dan menjamin gerbong rakyat yang ada dibelakangnya, akan ikut tunduk taat dan patuh mengikuti kehendak rezim.
Keterangan foto tidak tersedia.
ilustrasi
Para petualang politik ini hendak menjual darah dan bangkai umat, setelah bertarung sekuat tenaga melawan rezim, untuk menangguk kue kekuasaan. Mereka paham, rezim butuh legitimasi untuk membenarkan kemenangan politik yang diperoleh secara curang. Dan ini, merupakan kesempatan emas untuk mengayuh biduk dan berenang diantara bangkai dan darah penderitaan umat.
Rupanya mereka lupa, masih ada aktor dan kelompok politik yang ikhlas. Dan yang pasti, masih ada yang telaten mendampingi umat ini agar tidak terjebak ikut gerbong yang dibawa masuk kejurang kubu rezim.

UMAT TAK TERIKAT DAN TAK AKAN TAAT DENGAN KOMITMEN APAPUN DARI REKONSILIASI ... Oleh : Nasrudin Joha

INGAT ! UMAT TAK TERIKAT DAN TAK AKAN TAAT DENGAN KOMITMEN APAPUN DARI REKONSILIASI YANG KALIAN BUAT
Rekonsiliasi itu hanya untuk elit, jadi jika terjadi itu hanya mengikat elit. Rekonsiliasi itu hanya untuk membagi kue kekuasaan dikalangan elit, jadi tak berpengaruh sedikitpun bagi kemaslahatan umat.
Bagi rezim, rekonsiliasi adalah sarana untuk mencari legitimasi, setelah kemenangan secara curang dilegalisasi MK. Bagi kubu oposisi, rekonsiliasi adalah kesempatan ngalap berkah untuk mendapatkan kursi, setelah tak dapat meraih kekuasan secara mendominasi.
Bagi umat, rekonsiliasi adalah pesta pora diatas bangkai dan penderitaan umat. Perayaan kemenangan diatas kesedihan dan kemarahan umat. Berbagi konsesi kekuasaan, diatas onggokan tulang belulang dan amisnya darah mujahid 21-22 Mei.

MEREKA TIDAK TULUS MAU REKONSILIASI ... Oleh : Nasrudin Joha

MEREKA TIDAK TULUS MAU REKONSILIASI, LANTAS KENAPA KITA MUSTI TUNDUK ?
Rezim Jokowi tak benar-benar tulus ingin rekonsiliasi. Yang mereka butuhkan itu hanya legitimasi kemenangan yang diperoleh secara curang. Bukan ingin rekonsiliasi.
Saat Dahnil Anzar Simanjuntak menyampaikan usul agar rekonsiliasi Jokowi-Prabowo Subianto dimanfaatkan untuk membawa pulang Habib Rizieq Syihab (HRS) ke Indonesia. Kubu TKN Jokowi melalui Hendrawan Supratikno menolak, alasannya rekonsiliasi yang sehat adalah yang memikirkan kepentingan bangsa. Jadi, HRS tidak dianggap sebagai bagian dari aset dan kepentingan bangsa, bahkan boleh jadi HRS dianggap bagian dari musuh bangsa.
Bagi kubu TKN Jokowi, BPN Prabowo bisa menyampaikan syarat apapun, termasuk konsesi berbagi kekuasaan. Dan hal ini, jelas sudah dipersiapkan oleh kubu rezim untuk memuluskan rencana rekonsiliasi untuk melegitimasi Kemenangan Jokowi. Tapi untuk HRS, untuk membebaskan semua tokoh dan ulama yang dikriminalisasi, No way !

KITA WAJIB TERUS MELAWAN Oleh : Nasrudin Joha


UNTUK BANG ASYARI USMAN, KITA WAJIB TERUS MELAWAN
Iya, saya memahami apa yang abang tulis. Tentang adanya sejumlah penulis partisan politik, penulis yang ingin mencari legitimasi untuk membangun Rekonsiliasi dengan rezim curang. Penulis, yang mencoba membuat narasi jahat, melemparkan sejumlah masalah yang diproduksi rezim kepada Relawan.
Penulis- penulis ini tidak menulis, kecuali karena pesanan. Pesanan, yang dijadikan sarana untuk mengantarkan sejumlah petualang politik sampai ke tampuk kekuasaan.
Mereka, barisan pelacur intelektual ini ingin mempermainkan perasaan umat, ingin mengelabui pemikiran umat, yang telah berdarah-darah di garda terdepan melawan rezim curang. Mereka, mencoba membangun narasi bahwa rekonsiliasi bukanlah keinginan tapi pilihan realistis ditengah situasi yang tidak memungkinkan.

Senin, 15 Juli 2019

JOKOWI DAPAT SEMUANYA, PRABOWO BERIKAN SELURUHNYA By Asyari Usman

JOKOWI DAPAT SEMUANYA, PRABOWO BERIKAN SELURUHNYA
By Asyari Usman
Dari pertemuan Lebak Bulus (13 Juli 2019), ada pertanyaan penting: Jokowi dapat apa, dan Prabowo dapat apa? Siap yang untung, siapa yang rugi?
Kalau mau dijawab singkat, itulah judul tulisan kali ini. Yaitu, Jokowi dapat semuanya, sedangkan Prabowo memberikan seluruhnya. Jokowi dapat ‘full package’ dan Prabowo menyerahkan segalanya.
Yang diperoleh Jokowi dan yang diberi Prabowo barangkali tidak ternilai secara material. Maksudnya, saya tidak tahu berapa yang pantas dibayar untuk legitimasi jabatan presiden. Mau Anda sebut 25 triliun? Atau 50 triliun? Wallahu a’lam.

Kamis, 27 Juni 2019

MK Akan Menghukum Perampok atau Korban Perampokan? By Asyari Usman

MK Akan Menghukum Perampok atau Korban Perampokan?
By Asyari Usman
Ujian independensi Mahkamah Konstitusi (MK) akan terlihat besok. Mereka akan memutuskan siapa pemenang sengketa hasil pilpres 2019. Mari kita saksikan apakah MK akan menghukum perampok atau menghukum korban perampokan.
Tidak perlu dibawa berbelit-belit apalagi berkelit-kelit. Konstelasi pilpres ini sudah sangat terang-benderang. Yaitu, ada gerombolan pemilik berbagai macam kekuasaan yang merampok kemenangan rakyat; dan ada korban yang dirampok (Prabowo-Sandi). Semuanya hitam-putih. Tidak ada yang abu-abu.

Para Pengkhianat Koalisi Prabowo Mulai Tunjukkan Belang By Asyari Usman

Para Pengkhianat Koalisi Prabowo Mulai Tunjukkan Belang
By Asyari Usman
Moga-moga saja Pak Prabowo tidak terpengaruh oleh ide bergabung ke Jokowi. Dalam beberapa hari ini, ada sejumlah orang di koalisi Adil-Makmur yang mulai mencoba-coba meniupkan skenario yang sangat hina. Yaitu, bergabung ke kubu Jokowi.
Sebelum membahas ini lebih lanjut, perlu dipahami bahwa kubu 01 bisa saja sedang memasang perangkap agar opini publik terarah seolah yang menang pilpres adalah Jokowi. Padahal, yang menang adalah Prabowo-Sandi. Jadi, sangat bisa dimengerti kalau kubu 01 berkepentingan agar publik secara tak sadar mengakui kemenangan curang Jokowi-Ma’ruf.

Kamis, 10 Juni 1971

Ilegal, Tindakan Pemerintah Melumpuhkan Medsos

Ilegal, Tindakan Pemerintah Melumpuhkan Medsos
By Asyari Usman
Dalam dua hari ini, 22-23 Menteri Kominfo Rudiantara sengaja menutup media sosial sebagai salah satu sarana bagi publik untuk mendapatkan informasi. Tindakan itu menyebabkan para pengguna Facebook, Twitter, Instagram, Whatapps, dll, tidak bisa berkomunikasi atau mengkomunikasikan berita dan informasi yang menjadi hak publik.
Berbagai platform media sosial itu sangat penting bagi masyarakat karena di era Jokiwi ini media mainstream hampir 100% terkooptasi oleh kekuasaan. Atau sebagian melacurkan diri kepada kekuasaan yang menyebabkan informasi dan berita-berita yang mereka siarkan tidak memenuhi kaidah “impartial” (tak memihak).

Kalau Menang Bersih, untuk Apa Bertemu Prabowo?


Kalau Menang Bersih, untuk Apa Bertemu Prabowo?
By Asyari Usman
Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengatakan, belum lama ini, bahwa pertemuan antara Jokowi dan Prabowo akan segera berlangsung. Sudah ada sambung rasa, tinggal tunggu waktu saja, kata mantan bawahan SBY itu.
Dari satu sisi, upaya untuk mempertemukan ‘pemenang palsu’ dan ‘pemenang asli’ pilpres 2019 itu, patut dihargai. Tetapi, di lain pihak, upaya ini sangat mengherankan. Sebab, kalau Jokowi benar-benar menang bersih, mengapa harus minta bertemu dengan Prabowo? Untuk apa bertemu? Abaikan saja!
Apa yang kalian takutkan kalau memang kalian menang dengan jujur dan adil? Apa yang kalian khawatirkan jika kalian menang tanpa kecurangan?

Pengkhianatan SBY Akan Hancurkan AHY

Pengkhianatan SBY Akan Hancurkan AHY
By Asyari Usman
Si ahli strategi itu, SBY, sekarang terjebak di dalam manuvernya sendiri. Manuver yang mendukung hasil pilpres curang. SBY terlalu jauh melangkah ketika menasihati Prabowo Subianto (PS) agar menerima kecurangan. Agar bertemu dengan Jokowi supaya perselisihan bisa “diselesaikan”.
SBY juga sangat gegabah menyampaikan ucapan selamat menang kepada Jokowi. Inilah tikaman dari belakang (back-stabbing) SBY yang akan berdampak kepada dirinya dan juga putra mahkota yang dia siapkan.

Penyelamatan ... SOSMED (PSOSMED)

Penyelamatan ... SOSMED
(PSOSMED)

Halaman ini merupakan satu halaman yang dimaksudkan untuk menampung/ upaya penyelamatan terhadap ide, pikiran dll yang ada di sosmed. Bisa dari sosmed mana saja, yang mana isiya diyakini perlu di selamatkan untuk jadi bahan informasi pihak lain. Penyelamatan dimaksudkan dalam rangka mensiasati banyaknya akun2 sosmed yang disuspen, dimana dalam akun tersebut juga ada ide, pikiran yang masih layak untuk terus dipelihara.

*****============*****

Pengkhianatan SBY Akan Hancurkan AHY

Pengkhianatan SBY Akan Hancurkan AHY
By Asyari Usman
Si ahli strategi itu, SBY, sekarang terjebak di dalam manuvernya sendiri. Manuver yang mendukung hasil pilpres curang. SBY terlalu jauh melangkah ketika menasihati Prabowo Subianto (PS) agar menerima kecurangan. Agar bertemu dengan Jokowi supaya perselisihan bisa “diselesaikan”.
SBY juga sangat gegabah menyampaikan ucapan selamat menang kepada Jokowi. Inilah tikaman dari belakang (back-stabbing) SBY yang akan berdampak kepada dirinya dan juga putra mahkota yang dia siapkan.

Kalau Menang Bersih, untuk Apa Bertemu Prabowo?
By Asyari Usman
Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengatakan, belum lama ini, bahwa pertemuan antara Jokowi dan Prabowo akan segera berlangsung. Sudah ada sambung rasa, tinggal tunggu waktu saja, kata mantan bawahan SBY itu.
Dari satu sisi, upaya untuk mempertemukan ‘pemenang palsu’ dan ‘pemenang asli’ pilpres 2019 itu, patut dihargai. Tetapi, di lain pihak, upaya ini sangat mengherankan. Sebab, kalau Jokowi benar-benar menang bersih, mengapa harus minta bertemu dengan Prabowo? Untuk apa bertemu? Abaikan saja!
Apa yang kalian takutkan kalau memang kalian menang dengan jujur dan adil? Apa yang kalian khawatirkan jika kalian menang tanpa kecurangan?


Ilegal, Tindakan Pemerintah Melumpuhkan Medsos

Ilegal, Tindakan Pemerintah Melumpuhkan Medsos
By Asyari Usman
Dalam dua hari ini, 22-23 Menteri Kominfo Rudiantara sengaja menutup media sosial sebagai salah satu sarana bagi publik untuk mendapatkan informasi. Tindakan itu menyebabkan para pengguna Facebook, Twitter, Instagram, Whatapps, dll, tidak bisa berkomunikasi atau mengkomunikasikan berita dan informasi yang menjadi hak publik.
Berbagai platform media sosial itu sangat penting bagi masyarakat karena di era Jokiwi ini media mainstream hampir 100% terkooptasi oleh kekuasaan. Atau sebagian melacurkan diri kepada kekuasaan yang menyebabkan informasi dan berita-berita yang mereka siarkan tidak memenuhi kaidah “impartial” (tak memihak).